Friday, 22 January 2016

Perbedaan Antara KRL Seri 205 dari Jalur Saikyo, Jalur Yokohama, dan Jalur Nambu

2 KRL seri 205 berpapasan di Stasiun Manggarai
KRL seri 205 saat ini merupakan KRL dengan jumlah terbanyak yang beroperasi di Jabodetabek. Didatangkan mulai akhir 2013, kini jumlah keseluruhannya mencapai 476 unit yang terbagi menjadi 60 rangkaian dengan formasi setiap rangkaian terdiri dari 6, 8, atau 10 kereta. Dan di antara 476 unit itu, terdapat 32 unit yang tidak dapat dioperasikan karena roda tipis, kecelakaan, dan menjadi donor suku cadang untuk rangkaian lainnya, sehingga hanya 444 unit yang terbagi dalam 57 rangkaian yang dapat dioperasikan. 20 rangkaian di antaranya yang memiliki formasi asli 6 kereta, 12 di antaranya digabungkan menjadi 6 rangkaian dengan formasi 4+6 atau 10 kereta dengan melepas 2 kereta tengah, 4 rangkaian digabungkan menjadi 2 rangkaian dengan formasi 6+6 atau 12 kereta, dan 1 rangkaian beroperasi sebagai rangkaian 8 kereta dengan menyisipkan lepasan dari rangkaian 4+6 tadi. Sedangkan 3 rangkaian lainnya masih memiliki susunan asli 6 kereta per rangkaian, belum diubah menjadi 4+6 atau 6+6. Sehingga total jumlah rangkaian seri 205 yang ada di Jabodetabek sampai saat ini adalah 52 rangkaian, dengan jumlah rangkaian yang beroperasi sebanyak 46 rangkaian kalau hitung-hitungan saya tidak keliru

Dengan jumlah sebanyak itu, mungkin anda bosan karena sekarang hampir di setiap jalur di Jabodetabek pasti ada lebih dari 1 rangkaian KRL seri 205 yang beroperasi. Namun tentunya banyak dari anda yang belum terlalu bisa membedakan antara masing-masing rangkaian seri 205 yang didatangkan dari 3 jalur berbeda di Jepang. Perbedaan bisa dilihat dari eksterior kereta maupun interiornya. Mau tau apa yang membuat mereka berbeda padahal terlihat sama?

KRL Seri 205 Jalur Saikyo

KRL seri 205 dari jalur Saikyo, rangkaian 205-142F (K1 1 14 121 TS)
KRL seri 205 dari jalur Saikyo merupakan KRL seri 205 jenis pertama yang didatangkan ke Indonesia pada akhir tahun 2013. Didatangkan sebanyak 180 unit yang terbagi dalam 18 rangkaian, 2 rangkaian yang diturunkan pertama kali adalah 205-99F (eks Kawagoe set 11, nomor lambung Kemenhub K1 1 13 71-80) dan 205-123F (eks Kawagoe set 15, nomor lambung Kemenhub K1 1 13 61-70). Rangkaian-rangkaian dari jalur Saikyo ini memiliki jenjang waktu yang cukup lama dari sejak pertama diturunkan dari kapal sampai benar-benar berdinas. Ujicoba angkut penumpang saat itu dilakukan pada tanggal 6 Februari 2014 dengan nomor perjalanan AL/25 dan baru berdinas reguler sebulan kemudian, sekitar 5 bulan sejak penurunan.

Rangkaian ini memiliki formasi baku 10 kereta, dan umumnya terdiri dari 2 kereta pengikut berkabin, 3 kereta motor berpantograf belah ketupat, 3 kereta motor tanpa pantograf, dan 2 kereta pengikut dengan jumlah pintu 6 buah per sisinya. Formasi 10 kereta dengan kereta-kereta 6 pintu inilah yang membedakan KRL seri 205 Saikyo dengan KRL seri 205 dari jalur lainnya. Menurut klasifikasi Jepang, kereta 6 pintu ini dinomori サハ (SaHa) 204-0. Namun ada juga beberapa rangkaian yang tidak memiliki SaHa 204-0, sebagai gantinya adalah SaHa 205 dengan 4 pintu per sisinya.

Namun, ada 3 rangkaian (32 unit) yang tidak dapat dioperasikan lagi. Ketiga rangkaian itu adalah 12 kereta gabungan dari 205-123F dan 205-54F yang terlibat dalam kecelakaan Juanda, dan 20 kereta dari rangkaian 205-137F dan 205-17F.

SaHa 204-12 (K1 1 14 128)
Pada interior kereta 4 pintu, KRL seri 205 Saikyo tidak memiliki "tempat bersandar" di setiap ujung-ujung jok, berbeda dengan KRL seri 205 dari jalur lainnya. Sedangkan pada kereta 6 pintu, jok yang digunakan menggunakan sarung hijau.

Interior kereta 4 pintu, MoHa 205-247 (K1 1 14 44)

KRL Seri 205 Jalur Yokohama

KRL seri 205 dari jalur Yokohama
KRL seri 205 dari jalur Yokohama adalah KRL seri 205 jenis kedua yang didatangkan ke Indonesia mulai pertengahan 2014, segera setelah rampungnya pengiriman KRL seri 205 dari jalur Saikyo. KRL ini didatangkan sebanyak 176 unit yang terbagi dalam 22 rangkaian dengan formasi 8 baku kereta per rangkaian.

1 rangkaian KRL seri 205 dari jalur Yokohama umumnya terdiri dari 2 kereta pengikut berkabin, 2 kereta motor berpantograf satu lengan, 2 kereta motor tanpa pantograf, 1 kereta pengikut dengan 4 pintu per sisi, dan 1 kereta pengikut dengan 6 pintu per sisi. Namun, kereta 6 pintu ini berbeda dengan yang dimiliki oleh KRL seri 205 dari jalur Saikyo.

Dalam klasifikasi Jepang, kereta 6 pintu ini dinomori サハ (SaHa) 204-100. SaHa 204-100 ini memiliki konstruksi badan, bentuk pintu, dan bogi yang mirip dengan KRL seri 209-0.

SaHa 204-125 (K1 1 14 239)
Dari 22 rangkaian itu, terdapat 2 rangkaian yang sedikit berbeda. 1 rangkaian menggunakan SaHa 204-0, dan 1 rangkaian lainnya tidak memiliki Saha 204-0 ataupun SaHa 204-100.

Pada interior kereta 4 pintu, KRL seri 205 dari jalur Yokohama ini tidak memiliki perbedaan besar dengan KRL seri 205 dari jalur lain, namun terdapat "tempat bersandar" di setiap pojokan kursi. Sedangkan untuk kereta 6 pintu, jok yang digunakan memiliki sarung berwarna merah muda keunguan.

Interior MoHa 205-221 (K1 1 14 176)

KRL Seri 205 Jalur Nambu

KRL seri 205 dari jalur Nambu, rangkaian 205-86F (K1 1 15 19 TS) + 205-88F (K1 1 15 07 TS) formasi 12 kereta
KRL seri 205 dari jalur Nambu adalah KRL seri 205 jenis ketiga yang didatangkan ke Indonesia mulai pertengahan 2015. KRL ini didatangkan sebanyak 120 unit yang terbagi dalam 20 set dengan formasi baku 6 kereta. Namun, di Indonesia KRL ini akan dioperasikan dengan formasi 6+6 sehingga menjadi 10 rangkaian dengan formasi 6+6 atau 12 kereta. Meskipun begitu, baru 2 rangkaian yang beroperasi dengan formasi 6+6, sisanya beroperasi dengan formasi 4+6 atau 8 kereta sambil menunggu kesiapan prasarana.

Rangkaian dengan ciri khas kelir kuning-jingga-hitam khas jalur Nambu yang dipertahankan dengan tambahan topeng merah sebagai ciri khas PT. KCJ ini tentunya menjadi KRL seri 205 yang paling mudah dikenali di antara KRL seri 205 dari jalur lain. 1 rangkaian seri 205 Nambu formasi baku memiliki 2 kereta pengikut berkabin, 2 kereta motor berpantograf satu lengan, dan 2 kereta motor tanpa pantograf. Tidak ada yang spesial dari formasi baku tersebut, kecuali ketika digandengkan menjadi 6+6, dan melihat formasi yang membuat adanya kabin di tengah rangkaian itu membawa memori kembali ke zaman Divisi Jabotabek di mana KRL-KRL Ekonomi juga digandengkan dengan formasi 4+4. KRL seri 103 pun pernah juga digandengkan dengan formasi 4+4.

Kabin-kabin tengah dari rangkaian 12 kereta
Interior KRL seri 205 dari jalur Nambu tidak jauh berbeda dengan KRL seri 205 dari jalur Yokohama, yaitu sama-sama memiliki "tempat bersandar" di setiap pojokan kursi. Namun pada beberapa kereta, di bagian pintu terdapat stiker berwarna kuning di lantai.

Interior Moha 205-13 (K1 1 15 20)
Itulah yang membedakan KRL seri 205 dari masing-masing jalur. Sekarang sudah bisa membedakan kan?

Perbedaan LRT, KRL, dan MRT


Light Rail Transit (LRT) adalah salah satu transportasi publik yang tengah disiapkan pemerintah. Transportasi ini diharapkan nantinya bisa menjadi pilihan transportasi umum bagi masyarakat. Meski keberadaannya sering disamakan dengan KRL atau MRT, faktanya tidak semua selalu sama.

Sudah lebih dari satu bulan, proyek pembangunan LRT telah dimulai. Pemerintah lebih memilih mengerjakan proyek ini karena nantinya akan menjadi pilihan transportasi masal perkotaan sehari-hari yang bisa mengurai kemacetan Ibu Kota dan sekitarnya. Proyek ini ditragetkan selesai pada awal 2018.

Jika dilihat sekilas, LRT memang tidak jauh berbeda dengan krl dan MRT. LRT sendiri merupakan moda transportasi berbasis rel. Ketiganya sama-sama digerakan oleh aliran listrik. 



Dikutip dari Kompas.comAhok mengatakan jenis rel yang akan digunakan oleh LRT adalah rel berukuran 1067 milimeter. Ukuran ini sama dengan yang saat ini digunakan oleh KRL dan nantinya juga akan oleh MRT.

Meski memiliki kesamaan, ketiganya juga mempunyai perbedaan. 

Salah satunya dalam jumlah mengangkut penumpang. Kapasitas LRT dinilai lebih kecil dari MRT ataupun KRL. Setiap rangkaian kereta hanya bisa mengangkut maksimal 628 orang penumpang karena dalam satu rangkaian LRT terdiri atas maksimal tiga kereta.  

Lainnya, MRT terdiri dari maksimal enam kereta dan dapat mengangkut sekitar 1.950 penumpang. Untuk daya angkut KRL sendiri yang setiap rangkaian keretanya (terdiri dari 8 hingga 10 kereta) sanggup mengangkut 2.000 penumpang. 


Hal yang membedakan lainnya, yakni mengenai perlintasan. Untuk LRT akan ada enam koridor LRT yang ditargetkan. Rute tersebut adalah Cibubur-Cawang,  Bekasi Timur-Cawang, Cawang-Dukuh Atas, Cibubur-Bogor, Dukuh Atas-Palmerah-Senayan, dan  Palmerah-Grogol. Semua perlintasan itu direncanakan dibangun dengan jalur layang.


Lain lagi dengan  perlintasan MRT yang dibangun dalam dua jenis, yakni layang dan bawah tanah. Proyek pembangunan tahap satu MRT di Jakarta akan menyelesaikan rute Lebak Bulus-Sisingamangaraja-Bundaran HI. Perlintasan Lebak Bulus-Sisingamangaraja merupakan jalur layang, sedangkan Sisingamangaraja-Bundaran HI merupakan jalur bawah tanah.

Jalur layang maupun jalur bawah tanah ini tidak akan bersinggungan dengan jalan raya (perlintasan sebidang).  Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Muhammad Nasyir pernah mengatakan, jenis perlintasan berpengaruh besar terhadap jarak kedatangan antarrangkaian kereta di stasiun. Jika tidak ada perlintasan sebidang akan membuat kedatangan rangkaian kereta bisa dilakukan sesering mungkin.

"Karena tidak ada perlintasan sebidang, pelayanannya jadi lebih cepat. Nantinya kereta akan tiba di stasiun per 5 menit," kata Nasyir.

Berbeda dengan KRL yang mempunyai jarak antarkereta lebih lama karena hampir semua rute KRL merupakan jalur di atas tanah. Akibatnya banyak perlitasan sebidang.  Satu-satunya jalur KRL yang tidak memiliki perlintasan sebidang adalah jalur antara Manggarai-Jakarta Kota. Jalur ini merupakan jalur layang. 

Persija Jakarta

1928